THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES ?

Minggu, 14 Juni 2009

Bunga VS basket

“Brug”, bunyi tasku terdengar setelah kulempar kesalah satu sudut kamar. Lalu aku membantingkan tubuhku di atas spring bad yang empuk. Kupandangi langit – langit kamar yang berwarna biru laut. Kemudian aku memandang pot – pot bunga yang ada di balik jendela.
Hari ini adalah hari yang paling membosankan sepanjang sejarah hidupku. Semua anak di sekolah khususnya anak – anak tim basket tempatku bermain
Mempermalukanku di hadapan publik saat pertandingan melawan tim basket SMA Jaya Kusuma. Mereka menganganggapku hanya patung. Mereka tidak pernah memberikan operan bola hingga pertandingan usai. Alhasil tim basket SMA Jaya Kusuma unggul lima poin di atas timku kata lainnya timku kalah menembus perempat final.
Semua anggota tim basket menyalahkanku menjadi biang kekalahan. Sebenarnya sih aku memang tidak hebat dalam bermain basket maka dari itu mereka tidak pernah memberi operan bola lagi pula aku bergabung menjadi anggota tim basket hanya untuk menghilangkan label aneh padaku. Maklumlah aku sendiri saja merasa buruk dalam bermain. Namun aku nggak sepenuhnya salah, mereka yang bodoh memilih aku menjadi pemain pengganti Prisma yang cidera pada kakinya.
I thing this is not bad. Walaupun menang aku pun nantinya tetep dianggap pecundang. Kalau pun menang kami menang, aku pasti aku tidak mendapat jatah uang. Jangankan mendapat uang, menyentuh dan melihat piala saja sudah dianggap beruntung.

“ Uhhh… sebel ! “, kesalku dalam hati.

Rasanya ini sudah cukup. Kesabaranku sudah habis. Dalam hati aku sudah membulatkan tekatku untuk mengundurkan diri dari tim basket SMA Budi Luhur. Yang aku perlukan adalah membuat surat penguduran diri. Aku mulai bangkit dari tempat tidur menuju meja belajarku. Aku mulai menulis surat pengunduran diri. Memang sengaja aku menulis dengan tinta warna merah agar mereka merasa keki atau apalah.
Sebenarnya Prisma, ketua tim basket menerimaku menjadi anggota tim gara – gara pekerjaaan orang tuaku. Mereka menggunakanku untuk mendapat sponsor dana dari papaku atau kaos seragam gratis dari mamaku yang seorang disainer baju ternama. Intinya aku hanya dimanfaatkan oleh anak – anak tim basket khususnya Prisma.
Sambil tersenyum sinis aku melipat surat tersebut. Aku berfikir apa jadinya jika mereka tanpa kehadiranku di tim basket. Mereka akan merengek – rengek seperti bayi unuk memintaku kembali menjadi anggota. Pokoknya mereka akan menyesal telah berbuat seperi itu.


****

“ Sam …. Kamu nggak bangun? Nanti telat lho! “ Suara Mamaku dari balik pintu.
“Oh My God! “ aku sangat terkejut melihat jam dinding menunjukkan pukul enam lebih lima puluh menit. Aku akan terlambat. Aku kemudian lompat dari tempat tidur dan menyambar handuk gambar sponge bob kesayanganku untuk mandi. Mungkin ini gara –gara aku semalaman melamunkan kehancuran tim baket tanpaku.
Tanpa sarapan aku segera meluncur menggunakan sepeda BMX warna biru. Di jalan aku sudah tidak sabar mendengar kabar sensasional dari keluarnya aku dari tim basket.
Setibanya aku di sekolah, aku tidak masuk kelas melainkan menuju ruang ganti gedung olah raga. Dengan senyum pasti aku memasukkan surat yang kusiapkan kemarin ke dalam loker milik Prisma.
“ Yes ini pasti top cer! “ batinku.
Sebenarnya aku tidak perlu tergesa-gesa ke sekolah. Tadi malam aku sudah berniat untuk membolos pelajaran pertama. Soalnya sih pelajaran itu adalah pelajaran fisika. Entah mengapa aku selalu pusing jika menerima bermacam – macam rumus yang membuatku bingung. Ditambah lagi dengan gurunya yang super nge- BT - in, kalau nggak marah pasti ngasih tugas yang segudang.
Sembari menanti pergantian jam pelajaran aku besembunyi sambil sarapan di kantin sekolah. Ibarat peribahasa ‘ Sambil menyelam minum air ‘ .

“Lho kamu kok nggak ikut pelajaran ? “ kata Bu kantin penjaga kantin, “ Sekarang pelajaran fisika lagi ya? Atau matematika? “.
“ Ah, tau aja! Aku pusing bu! Aku udah neg dengan rumus – rumus. “ keluhku. Sebenarnya tanpa ditanya pun Bu kantin pasti sudah tau kenapa aku selalu mbolos setiap pelajaran matematika atau fisika. Emang Bu kantin orang pengertian. Dia juga nggak suka ngadu kekepala sekolah kalau aku sering mbolos kelas. Kadang – kadang aku juga sering curhat padanya, sebab Bu Parti juga bisa pegang rahasia.
“ Kemarin gimana lombanya? Menang atau kalah? Tumben kok temen – temenmu nggak kesini. Biasanya kalau abis latihan atau lomba pasti kesini. Kok sekarang enggak? “ Ibu kantin mengalihkan pembicaraan.
“ Aduh! Tanyanya satu – satu akukan jadi bingung jawabnya! “
“ Iya ibu ngerti, tumben aja kok temen – temenmu nggak kesini! “.
“ aku marah sama temen – temen! “.
“ Ooo! Temen – temen kamu gitu lagi. Kayaknya kamu nggak cocok sama mereka, ibu lihat kamu selalu diperlakukan tidak adil terus. Ibu jadi kasihan sama kamu!“
Memang bener apa yang dikatakan Bu Parti, aku udah nggak cocok lagi dengan tim basket.


****


Menit – menit yang berlalu terasa membosankan di kantin. Tak banyak yang aku lakukan. Satu – persatu gorengan yang ada di piring hampir habis kumakan. Lumayan buat pengganti sarapan pagi yang terlewatkan tadi.
Siang nanti sepulang sekolah aku berniat pergi ke suatu redaksi majalah remaja. Aku ingin mengirim puisi untuk lomba. Kalau boleh jujur aku memang suka sekali menulis puisi, apalagi puisi cinta, aku bisa dibilang jagonya. Namun selama ini aku menyembunyikan ini dari tim basket. Mereka membenci yang namanya puisi. Menurut mereka puisi itu membosankan dan norak.
“ Hari gini masih nulis puisi Ah jadul “, komentar itu selalu terngiang dalam telingaku sampai saat ini.
Mereka selalu beranggapan bahwa yang pantas menulis puisi hanya perempuan saja. Maka dari itu aku merahasiakan hobi menulis puisi di sekolah. Aku takut jika nanti aku dianggap aneh dan jadul.
Ah, biarlah mereka berkata apa. Itu semua tidak mengurangi kecintaanku terhadap puisi. Walau nanti siang aku mengirim puisi ini aku sudah menyiapkan dari semalam bersamaan dengan surat pengunduran diri.
“Oh no “. Aku tersontak kaget ketika aku membuka tas dan melihat amplop yang berbeda. Aku rupanya salah memasukkan surat. Surat itu tertukar dengan surat berisi puisi yang akan kukirim guna mengikuti lomba. Prisma akan mengetahui kalau aku suka buat puisi.
Sebelum terlambat aku mencoba mengambilnya kembali. Aku berlari menuju gedung olah raga. Semua tenagaku kukerahkan semaksimal mungkin agar lebih dahulu dari pada Prisma.
Aku ternyata terlambat. Dia malah membaca puisiku melalui microphone gedung olah raga yang tersambung dengan semua speaker yang ada di sekolah.
Dengan panik aku mempercepat berlari menuju gedung olah raga. Semua rencana gagal. ‘Senjata makan tuan‘, mungkin ini yang pantas buat untukku.
“ Hahaha… “ tawa gemuruh semua anak di sekolahku ketika melihatku melintas. Rahasiaku telah tebongkar, jika aku sering membuat puisi, apalagi puisi yang dibaca Prisma adalah puisi cinta. Dalam hati aku bertanya “ apa sih salahnya jika seorang cowok suka buat puisi? “.
“ Huhuhu…” sorok mereka ketika aku memasuki pintu gedung olah raga. Mereka melempari aku dengan bola kertas dan botol – botol minuman. Aku kemudian mengambil dengan paksa kertas tersebut.
Masalah tersebut ternyata mengundang pehatian para guru dan kepala sekolah.
Mereka nampaknya marah dengan kejadian ini. Hal ini di anggap mengganggu ketenangan sekolah dan pelanggaran penggunaan barang sekolah. Ya tuhan, masalah bertambah rumit. Tepat dugaanku, mereka sudah marah besar. Apalagi Bu Bherta guru fisika kelasku juga datang dan ikut memerahi aku gara – gara bolos pelajaran.
Alhasil aku bersama Prisma diseret ke ruang sidang dan duduk di kursi panas. Dag..dig…dug… jantungku berdetak tak karuhan. Hidupku terasa sudah usai saat ini. Aku bagai mendapat kematian.
Sejam lebih aku berada di dalam ruang sidang. Aku mendapat omelan – omelan yang silih berganti, mulai Bu Bherta, kepala sekolah hingga guru BP. ‘Apes’ mungkin kata ini sangat cocok untuk nasipku sekarang ini. Bukan cuma omelan – omelan saja yang aku dapat, mereka juga memberi surat teguran untukku. Isinya aku diancam scorrsing seminggu jika ini terulang.
Dan sedangkan Prisma tak jauh beda denganku. Tapi aku juga masih bisa bernafas lega. Aku masih lebih beruntung sebab Prisma mendapat hukuman untuk bersih – bersih halaman sekolah.

****

Sejam dalam di dalam ruang sidang terasa seperti setahun. Aku bagaikan napi yang senang menghirup udara segar.
“ Eh, kamu Samuel kan? “, Tanya seorang gadis yang setahuku bernama Angel memecahkan keheningan sore di sekolahan.
“ Aku kagum dengan puisimu. Aku percaya kok kamu bisa memenangkan lomba itu! “, katanya sambil tersenyum lebar. Seketika itu Prisma meninggalkan kami dengan wajah yang sinis.
“ Lha kamu kok tahu sih? “ aku merasa sangat kebingungan ketika ia bertanyua begitu. Padahal aku sudah merahasiakan hal ini serapi mungkin agar tidak ada orang yang tahu di sekolah ini.
“ He..he.., kamu nggak usah panik! Aku juga suka puisi kok. Sebenarnya aku tahu dari majalah langgananku, kalau kamu sering mengirim puisi”.
Aku sangat terharu dengan komentarnya yang sangat panjang. Baru kali ini ada orang yang mau menghargai karyaku. Apalagi yang komentar adalah seorang cewek mantan ketua OSIS 2008 lalu.
“ Sebenarnya aku bermaksud untuk mengajak kamu gabung di club florist. Kamu mau kan! “ katanya.
‘Club florist’ aku sedikit terkejut mendengarnya. Hal itu karena club florist bukanlah club melainkan hanya perkumpulan anak yang dianggap aneh di pimpin mantan ketua OSIS yaitu Angel.
“ Sam please gabung ya! “ rayu Angel.
Duh bagaimana ini. Aku bingung setengah mati. Aku tak mau dianggap sebagai anak aneh.
“ Oke deh “ aku tidak yakin.
“ Kamu mau ikut? “
“ Maksudku oke buat pikir – pikir dahulu “ aku menjawab.
“ Oke, aku tunggu jawabanya besok “, katanya sambil menyodorkan formulir pendaftaran club florist.


****

Malam terasa begitu panjang. Angin bertiup sepoi – sepoi menusuk ragaku. Sambil bersantai di teras aku melamun tentang kejadian sore tadi. Entah kenapa aku jadi melamunkan Angel. Apalagi senyumnya yang begitu menawan. Terlebih ia memuji puisiku.
Aku heran kenapa ia dianggap aneh di sekolahku. Kalau dilihat – lihat ia juga menarik. Lagi pula ia orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin. Terbukti ia pernah menjadi ketua OSIS tahun lalu.

“ Ah ngapain mikirin Angel “ , batinku “ tapi dia manis juga “.
Sambil menimbang – nimbang keputusan aku mengisi formulir pendaftaran.
“ Kalau aku gabung di club itu bagaimana komentar anggota tim basket? Tapi aku sudah sudah resmi keluar, jadi ngapain difikirkan. Oke deh aku dah bulat tekatku untuk bergabung di club florist.”


****

Dengan langkah pasti aku menuju ruang gudang yang sudah disulap menjadi ruang mereka gunakan untuk tempat perkumpulan mereka. Ketika aku membuka pintu ruang tersebut, aku dikejutkan dengan teriakan – teriakan heboh berbunyi ‘ selamat bergabung ‘ dari sekumpulan anak – anak yang di anggap aneh di sekolah ini.
“ Makasih “, aku sedikit ilfeel alias ilang feeling.
“ Selamat ya “ , kata Angel penuh dengan semangat, “ aku yakin bulan ini perkumpulan kita menjadi club yang hebat “.

GUBUK DI POJOK SAWAH

Sewaktu aku kecil, beton dan cor belum ditanam disetiap inci area persawahan ini. Kalau musim menanam padi yang bisa dilihat hanyalah hamparan tanah liat kecoklatan yang berkilau memantulkan cahaya matahari. Merasakan kesuburan bumi pertiwi dan membau harapan para petani untuk memetik bulir-bulir padi. Kini persawahan di sebelah timur telah dutimbuni tanah merah dan disemen, menggusur liang liang belut. Susunan batu batanya membelah cakrawala ujung timur dengan raksasa beton. Dan mungkin akan menggusur semua sawah disini. Hanya tersisa beberapa petak sawah saja. Karena diantaranya tidak terurus sehingga menjadi tempat tikus curut berpesta.
Matahari masih bersinar dan angin sepoi-sepoi masih berhembus. Tapi panas dan gerah siang ini lebih menyengat dari pada tahun sebelumnya. Global warming. Aku membawa nasi putih, sayur daun singkong dan sambal. Menapaki jalan setapak menuju gubuk di pojok sawah yang tidak lagi ditumbuhi rumput ilalang dan bunga bakung. Di conblok. Aku merindukan bijinya yang menggelitik kulit.
Gubuk di pojok sawah masih berdiri. Bambu penyangga yang mengerut menopang atap rumbia berjamur. Sudah tidak kulihat lagi anak-anak yang bermain lumpur, mencari belut atau mencari cacing untuk memancing seperti zamanku. Mungkin mereka sedang asik bermain robot atau computer di rumahnya.
Bapak duduk di gubuk sambil mengipas tubuhnya dengan capil. Tentunya ia kepanasan setelah mencangkul hari ini.
“Wah, kebetulan bapak sedang istirahat.”
“Bapak tidak lelah mencangkul seharian. Mengapa tidak disewakan saja?” , aku membuka rantang makanan.
“Tidak usah disewakan. Bapak masih kuat menanami padi. Lagi pula bertani adalah mata pencaharian Bapak dari dulu.”
Kupandangi bapakku yang sudah menginjak senja. Kulitnya yang legam mencerminkan kerja kerasnya setiap hari. Kerutan di wajahnya adalah kerutan harapan dan kerutan kesedihan. Ototnya menjadi saksi keteguhannya mengelola semua keruwetan ini. Batinku meraung dengan nasib keluargaku, apalagi memikirkan kerja keras lelaki tua dihadapanku dan nasib sepetak sawah ini. Terngiang obrolan dengan adik lelakiku tadi pagi. Sulistya.
……..
“Mbak Sari, di sekolah aku ditanya Bu Guru. Apa cita citaku”, matanya berbinar bercerita dengan lidah cidalnya.
“Memang cita-citamu apa Dik Sulis?”, kupandangi wajah mungilnya.
“Jadi pilot. Nanti aku bawa Bapak, Simbok, dan Mbak Sari kerumah nenek naik pesawat.”
Ia berlari kecil mengitariku dengan tangan dilentangkan. “Ngeng..ngeng …!”, mulutnya menirukan suara pesawat. Aku tidak dapat menyalahkan cita-cita nya. Ia masih polos , tidak tahu arti hidup dan nasib. Tidak tahu kalau bapaknya hanyalah petani kecil dengan uang pas-pasan.
“Kenapa menjadi pilot ?. Bukankah lebih baik menjadi petani seperti Bapak! ”
“Sulis ingin jadi pilot saja. Kata Bu Guru bisa pergi kemana saja. Bisa terbang seperti burung ”.
Aku tersenyum pahit mendengar alasan naïf itu. Sulis …kau masih kecil.
“Banyak anak Indonesia bercita-cita seperti dirimu. Tapi melupakan satu fakta bahwa 70 % penduduknya adalah petani. Mereka mungkin tidak tahu lagi pewaris petak sawahnya, karena anak-anaknya ingin jadi pilot sepertimu. Bukankah petani adalah profesi luhur. Menghidupi masarakat dengan bulir padi. Menopang perekonomian negeri ini tanpa menuntut balas jasa dari Negara. Yah, meskipun penduduknya lebih suka makan beras import. ”. Namun kata-kata ini berhenti di tenggorokan, aku tidak ingin memupus cita cita itu.
“Ya sudah, sana pergi bermain ke rumah Doni. Katanya kamu suka mobil-mobilannya.”.
Tidak usah disuruh dua kali ia sudah terbang dengan kapakan tangan diiringi deru pesawat dari mulutnya. Nasib. Berapa jumlah anak Indonesia yang seperi adikku. Ingin jadi dokter, pilot, tentara, atau presiden. Negeri ini adalah negeri gemah ripah. Yang mampu menghidupi rakyatnya dari hasil bumi. Siapa yang akan mengelola tanah, udara, dan air di negeri ini?. Akankah semua anak Indonesia hanya akanmenjadi pilot, tentara, dokter, atau apapun itu. Tidak ada yang mau menanam padi, menagkap ikan dilaut, atau menanam palawija. Siapa yang akan menyediakan beras di negeri ini?. Sudahlah tidak penting untuk dipikirkan.
“Anak muda tidak baik melamun. Nanti kesambet penunggu sawah ini loh. He..he..!”, Bapak mengejutkanku dengan tawa mengejeknya. Pikiranku tersentak berputar mengelilingiku, membentuk spiral masa lalu.
“Wah, Bapak keliru. Saya sedang berfikir bukan melamun.” senyumku mengembang.
“Dulu bangunan disana belum ada Nduk. Hanya sawah yang dipandang dari gubuk ini. Kalau musim menanam padi, banyak anak kecil mencari belut. Masih ingat kamu ?”, Bapak bertutur kepadaku, sambil menunjuk pembangunan perumahan di bekas area persawahan.
“Ingat pak, dulu Sari mencari belut disebelah timur sana. Tapi sekarang sudah dibangun perumahan. Dik Sulis pun tidak pernah mencari belut sepertiku. Apa mungkin karena tidak ada lagi belut disawah ini?”, aku menatap perumahan disebelah timur yang menjulang.
“Kata orang, sekarang zaman modern. Sudah tidak zaman lagi anak anak bermain lumpur, atau mencari belut. Zaman sudah berubah, mereka tidak tahu lagi cerita Dewi Sri. Mereka taunya siapa itu Su…Suparman , di Tipi itu loh. ”
“Bapak, itu namanya Superman bukan Suparman. Ada saja bapak ini..”, aku tersenyum mendengar ke-kuno-an Bapak.
“Padahal cerita Superman tidak ada manfaatnya bagi kita Nduk. Dewi Sri yang merelakan jiwa raganya untuk melebur menjadi benih-benih padi. Ia telah meninggalkan kedudukan sebagai permaisuri, mengubur perasaan cinta kepada Raden Sadana dan hidup terlunta lunta untuk membunuh keangkaramurkaan para raksasa. Bahkan para dewa dikayangan juga mengirim burung Pipit dan belalang untuk mengancurkan benih dari jasad Dewi Sri. Sungguh pengorbanan itu telah menghidupi dan memberi harapan rakyat Purwacarita. Tetapi anak sekarang tidak mau tahu dari mana butir padi berasal ! ”, bapak membetulkan duduknya, “Oleh karena itu, jangan pernah menyiakan setiap bulir beras. Ora ilok ! ”.
Benar juga kata Bapak. Cerita itu hanya ada dibenak orang orang dahulu, seperti Bapakku. Aku atau adikku tentu tidak percaya dengan cerita cerita semacam itu. Padi tumbuh subur karena dirawat, karena dibajak, diairi, dan diberi pupuk.
…….
Senja sore ini masih jingga. Meninggalkan kubah angkasa, bersembunyi di ujung langit. Rembulan kehabisan darah perlahan merangkak. Gumpalan mega itu membentuk bayang bayang gelap. Kelelawar mengepak meliuk membelah senyap. Jangkrik, anjing, burung Hantu, bersembunyi meneriakkan lagu malam.
Tidak biasanya Pak Raharja berkunjung ke rumah kami. Beliau adalah tangan kanan Pak Ramlan, Ketua Rukun tetangga di kampung ini. Dulu, beliau pernah datang karena ada urusan kompor elpiji. Katanya ada sisa anggaran kompor sehingga masih dibuka kesempatan pendaftaran. Keluarga kami sudah terdaftar, tetapi Pak Raharja kongkalikong dengan Bapak. Mungkin juga sedikit memaksa untuk memalsukan kartu keluarga dengan membuat satu kartu baru atas nama Simbok. Lalu untuk apa beliau bersusah payah ?. Kata Simbok kompornya akan dijual untuk dimasukkan kas desa.
“Assalamualaikum….!”, Pak Raharja mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam, Pak Raharja. Silakan masuk Pak!”, Bapak berjabat tangan dan masuk keruang depan, yang berisi dua kursi panjang berhadapan dengan satu meja kotak. diantaranya. Tidak ada property lain.
“Maaf Pak! Kalau saya mengganggu waktunya. Begini, saya disuruh Pak RT untuk menyampaikan undangan rapat.”Ia membuka tasnya dan mencari sesuatu. Kemudian menyerahkan selembar kertas.
“Ada rapat apa Pak?”, Bapak membaca undangan”Rapat Klarivikasi Surat Tanah. Loh, ada masalah mengenai surat surat tanah desa ini atau pemutihan surat tanah Pak?”.
“Wah kalau soal itu saya tidak tahu. Yang jelas Bapak diminta hadir di rumah Pak RT, disana pasti lebih jelas”, Pak Raharja merapikan tas dan bersiap pulang.
“Kalau begitu, saya izin pulang dulu. Jangan lupa rapatnya nanti malam Pak!”.
“Tentu Pak”, Bapak menyahuti obrolan Pak Raharja.
Bayang bayang Pak Raharja menghilang di balik pohon pisang didepan rumah. Dan Bapak bersiap pergi. Simbok menghampiri Bapak yang sedang mencari jaket .
“Pak, jangan jangan akan dilakukan penggusuran rumah untuk membangun hotel”, kemudian Simbok duduk,”Atau mungkin pelebaran jalan didepan itu !”.
“Tenanglah, semuanya masih dugaan. Belum tentu ada masalah, mungkin juga hanya pengarahan pembuatan surat tanah yang baru. Nanti setelah rapat di rumah Pak RT Bapak ceritakan semuanya.”
“Rapatnya dimulai nanti malam. Mengapa sekarang sudah bersiap pergi?”, Simbok kembali bertanya.
“Pergi ke rumah Pak Umar. Kemarin ia menawariku bibit semangka. Hati hati di rumah ya?”, Bapak memakai jaketnya dan menutup pintu depan.
Dinginnya angin pagi menembus celah fentilasi menghinggapi kamarku. Suara kokok ayam terdengar dikejauhan. Serangga malam sudah berhenti berdendang. Aku perlahan membuka kelopak mata dan mengawali hari ini. Samar samar kedengar percakapan Bapak dan Simbok di dapur. Setelah sembahyang subuh, aku ikut forum diskusi sambil membantu Simbok menanak nasi.
“Intinya kita harus punya surat tanah.”, Bapak menjawab sambil membuka tempe untuk lauk pagi ini.
“Loh Pak!Rumah dan pekarangan ini ada surat tanahnya “, Ibu memasak air dan menoleh kearah Bapak.
“Tapi sawah di tepi desa belum ada surat tanahnya!”.
“Sudah dari dulu , sejak kakek nenekku juga tidak punya. Semuanya beres. Semua orang juga tahu kalau itu adalah sawah kita.”, Ibu mengelak dan menurunkan air yang sudah mendidik. Kemudian memanaskan penggoreng.
“Simbok, rapat tadi malam membicarakan surat tanah kita?”, aku bertanya.
“Benar Nak. Katanya harus membuat surat tanah untuk sawah kita”.
“Kan ada pemutihan, jadi Bapak tidak usah khawatir “aku menimpali.
“Masalahnya justru itu Nak. Kita harus mengeluarkan uang 3 juta untuk membuatnya. Uang itu bias kita belikan kambing, ayam, atau itik. Lagi pula tidak penting surat tanah itu. Buktinya pemerintah memungut pajak bumi bangunan dari sawah kita. Itu membuktikan kalau hak sawah dan segala kepemilikan diakui pemerintah dan menjadi hak kita ”, Simbok mengacungkan sendok pertanda sedang panas hatinya.
“Kalau begitu tidak perlu membuat surat tanah. Iya?”,aku menoleh kearah Bapak.
“Benar pemikiran Simbok, dan pemikiran Pak RT juga tidak salah. Kalau kita membuatnya, Bapak dan Simbok tidak punya uang sebanyak itu. Pemutihan juga sudah tidak ada lagi.”, Bapak berhenti sejenak dan meneruskan penjelasannya.”Namun kalau tidak membuat surat tanah, permasalahannya tambah pelik. Untuk tahun ini pemerintah akan mengambil semua tanah yang tidak punya sertivikat. Berarti kita tidak punya sawah kalau tidak membuat sertivikat.”
Beberapa hari setelah rapat di rumah Pak RT, bapak dan petani lain menerima uang penjualan sawah. Sebenarnya Bapak tidak setuju, tetapi harus memilih satu dari pilihan pilihan pahit. Bapak ingin marah atau mengamuk dengan kebijakan ini. Namun kepada siapa ?. ia hanya bisa sabar dan memendam perasaan jengkelnya.
“Pak Sutikno, sebenarnya saya tidak terima dengan kesepakatan di rumah Pak RT. Saya merasa dipaksa dan dirugikan”Pak Kamto memulai obrolan di gubuk pojok sawah. Ia adalah petani seperti Bapakku.
“Benar Pak, saya juga tidak terima dengan keputusan itu. Kita diminta tanda tangan dengan bujukan manis tetapi busuk di hati.”
“Kemarin saya ingin memukul wajah culasnya si Ketua RT. Tetapi ada polisi yang berjaga didalam dan di luar rumahnya ”Pakdhe Cokro menimpali.
“Kurang ajar Pak RT itu. Kalau sekarang lewat disini akan kuinjak injak tubuh gembrotnya. Heh…!”Pak Kamto mengepalkan tangan dan memukul pahanya sendiri. Semilir angin malam berhembus membisikkan kedamaian dan keagungan malam. Tetapi hati panas petani tidak menggubris kesejukannya.
“Aku yakin, pasti ia sudah dibujuk oleh pembangunan proyek perumahan itu. Sawah-sawah ini tentu sudah menjadi milik pemborong itu. Dan sebentar lagi pasti berdiri bangunan gedhong ”, Pakdhe Cokro mengubah posisi duduknya menghadap perumahan disebelah timur yang hanya terlihat kerlap-kerlip lampu.
“Mungkin juga Pak. Tetapi kita akan berbuat apa ? kita hanya petani kecil yang tidak akan digubris kalau ngomong”, Bapak menengahi percakapan di gubuk sambil menatap Pak Cokro.
“Saya pernah mendengar cerita waktu kecil dahulu, kalau seekor gajah kalah dengan semut seribu. Iya to ?”
“Oh jadi kita harus mengumpulkan petani lain untuk memprotes Pak RT ? Begitu Pak Kamto! ”, Pakdhe Cokro berfikir.
“Ide bagus Pak. Saya yakin teman teman petani semua setuju. Mereka pasti juga merasa jengkel dengan kelakuan busuknya.”
Malam ini puluhan petani berkumpul di sawah pojok desa. Mereka membawa cangkul, sabit, dan alat lain. Bukan kerja bakti, tetapi akan mendemo rumah Pak RT. Suasana hati yang panas dalam diri petani membuat udara disekitarnya menjadi gerah.. di barisan depan Pak Kamto, Pakdhe Cokro, dan Pak Sutikno memimpin arakan menuju rumah Ketua Rt, Pak Rahman.
“Tok Tok tok…..”
Pakdhe Cokro mengetuk pintu rumah Pak Ramlan, namun tidak ada jawaban. Kemudian ia mengetuk ulang dan pintu terbuka.
“Loh kok ramai-ramai. Ada apa ini! Hah..?” Pak Ramlan terkejut dengan kedatangan arakan para petani.
“Tidak bisa Pak Cokro. Perjanjian kita sudah berlaku dan tidak bisa dicabut kembali. Apa alasannya Pak ?”
Hingga detik ini suasana menjadi panas.
“Bapak yang untung, saya yang rugi”, Pak Sutikno berteriak.
“Benar Pak. Saya tidak punya pekerjaan selain bertani”, terdengar teriakan lain.\
“Betul…betul”, petani lain menyahut.
“Tenang Bapak-bapak !”, Pakdhe Cokro mengangkat tangan, lalu kembali berbicara dengan Pak Ramlan,”Seperti yang dikatakan Bapak bapak tadi, pembelian tanah secara sepihak sangat merugikan kami. Lagi pula belum ada peraturan tentang pengambilan sawah petani oleh Negara karena belum punya sertivikat. ”
“Bapak jangan sok tahu. Saya ketua RT disini, saya lebih tahu dari pada kamu. Pokoknya saya tidak setuju kalau harus menyerahkan sawah tersebut. Memang Bapak bisa apa ?” Pak Ramlan meruncingkan suasana.
“Gila, sinting, Dasar tidak punya perasaan ”.
“Bakar saja rumahnya….!”, petani lain menimpali.
“Tenang Bapak-bapak”, Pakdhe Cokro berteriak. Namun tidak dapat memadamkan api amarah petani yang sudah tersulut sejak kemarin. Hiruk pikuk petani semakin menggema.
“Cepat bakar rumahnya”
“Betul-betul, hancurkan rumahnya…!”
Batu-batu beterbangan menghantam dinding, kaca rumah itu. Api bergeliat menyelimuti rumah. Jeritan keluarga Pak Ramlan berbaur dengan dentingan pecahan kaca. Hingga terdengar sirine polisi meraung- raung membelah suasana malam. Namun rumah itu telah menjadi puing. Engsel jendela dan pintu lepas, dan gentingnya hancur. Dinding itu telah retak.

Jumat, 24 April 2009

My Favorit Place

April,6, 2009
Code : AMT 2
Rewritten by Usfatun nur F



2.Composition
My Favorite Place
My favorite place is my bedroom. My bedroom is small, but nice, it size 3 X 3 m. The wall is green. There’s LG Pentium 4 computer. A beautiful and nice red carpet are resting on the floor. Some furniture are pink bed, chair and table. It’s always clean. I also had my dinner there. There’s also a big mirror, I look my self in that mirror sometimes. Ringing watch always wakes me up from my sleep. The picture of me and my boy friend always decorate my simple beautiful and nice bedroom. A cute tweety dool always accompany my sleep. I like listening to the music from my radio. I also studying and praying there in my bedroom.

My Classmate

April,6, 2009
Code : AMT 1
Rewritten by Usfatun nur F
1. Cluster

2. Composition

My Classmate
My classmate is Theo Rifai. He is 16 years old and he is from Sleman, Yogyakarta. His hair is short and straight. H is ears are big. His eyebrows are thin. His mouth is big. In Yogyakarata, Theo studies at State Vocational School 2 Yogayakarta student. He is clever and diligent. His mother is teacher and his father is soldier. His hobby is reading. He is not girl friend. He likes chicken. I like Theo, he is handsome. His nose is short and not long. He likes blue color. He is big eyes. He is glasses. His body is thin (53 kg) and enough tall (170 cm).
Theo is my best fried.

Rabu, 04 Februari 2009

IMPORTANCE OF KNOWLEDGE

Knowledge we can find in school, at home, and in the community.
Are we go to school just for search Knowledge? The answer is there are only two yes or no. Yes, because many students to intend go to school for study. No, because they go to school just for meet friend, play, and jokingly. Now many people assume that science is not important, but some are without the knowledge that we are just people who do not know what is.
The knowledge can rescue ours from suffering. We must understand that science is very important and with the knowledge we can determine our future is bright.

written by: yasin

High cost Education

High cost Education Quality education is expensive. This sentence often appear to the expensive cost that should be issued to the public benches of education. High cost of education from Kindergarten (TK) to university (PT) to make the poor have no option other than not in school. The poor should not be school. To enter kindergarten, and only at this time SDN required cost Rp 500,000, - to Rp 1,000,000. In fact, there are a levy on the Rp 1 million. SLTP entry / Senior High School could reach Rp 1 million to Rp 5 million. The high cost of education is now free from government policies that apply MBS (School-Based Management). MBS in Indonesia is in fact meant as an effort to make the mobilization of funds. Therefore, the School Committee / Board of Education, which is always required MBS organ of the elements. Employers have access to a wider capital. The result, after the School Committee established, all levies, the money always wear a mask, "according to School Committee decision." However, at the level of implementation, it is not transparent, because the superintendent and elected to the School Committee members are the people close to the Head of School. As a result, the School Committee policy is only to be the Principal, and MBS is only a release from the legitimacy of the state's responsibility towards the problems of education of his people. This situation will worsen with the introduction of the draft Education Law (draft BHP). Changing the status of the property from public education to shape the law clearly has a political and economic consequences are very large. With the change in the status that the Government can easily throw responsibility on the citizen education to the owner of a legal identity is not clear. University of any changes to the Law (BHMN). The emergence BHMN and MBS are some examples of the controversial education policies. BHMN own impact on the high cost of education in some universities favorites. Privatization or weakening the role of countries in the sectors of public service is not free from pressure and debt policies to ensure the payment of debt. Foreign debts of Indonesia 35-40 percent of the national budget each year is the incentive factor privatization of education. As a result, the sector to absorb the funding of education as a victim. Education funding cut to live up to 8 percent. From the State Budget 2005 is only 5.82%, which is allocated to education. Compare with the funds to pay debt that deplete 25% shopping in the State Budget. Draft Government Regulation (RPP) of Primary and Secondary Education, and the RPP on Compulsory Education. Strengthening the privatization of education, for example, seen in Article 53 (1) of Law No. 20/2003 on National Education System. In the article mentioned, organizers and / or a formal education, which was established by the Government or the public education incorporated. Like companies, schools looking for capital to be invested in education operational. Coordinator of the NGO Education Network for Justice, Yanti Mukhtar felt that with the privatization of education means that the government has legitimize commercialization of education with the responsibility of providing education to the market. That way, schools will have the autonomy to determine the cost of their own education. Schools, of course, will determine at the high cost to improve and maintain quality. As a result, access to the people that are less able to enjoy a quality education will be limited based on social status, between the rich and the poor. The same economic diungkapan observer Revrisond Bawsir. According to him, privatization of education is a global agenda Kapitalisme that have long been designed by donor countries through the World Bank. Through the Bill Board of Education Law (draft BHP). All of education will become a legal education (BHP), which must find the source of the funds themselves. This applies to all public schools, from elementary schools to universities. For certain people, some of PTN is now changed the status of a Board of Law (BHMN) is a scourge. If the reason that quality education is to be expensive, so this argument applies only in Indonesia. In Germany, France, the Netherlands, and in some other developing countries, many universities in quality but low-cost education. Some countries have even eliminate the cost of education. Quality education may not cheap, or right, should not be cheap or free. But the problem is who should pay? The government is actually obliged to guarantee every citizen to obtain education and to ensure public access down to get quality education. However, the fact is the Government's wish to avoid responsibility. While limited funds can not be a reason for the Government to 'clean hands'.


written by: yasin