Sewaktu aku kecil, beton dan cor belum ditanam disetiap inci area persawahan ini. Kalau musim menanam padi yang bisa dilihat hanyalah hamparan tanah liat kecoklatan yang berkilau memantulkan cahaya matahari. Merasakan kesuburan bumi pertiwi dan membau harapan para petani untuk memetik bulir-bulir padi. Kini persawahan di sebelah timur telah dutimbuni tanah merah dan disemen, menggusur liang liang belut. Susunan batu batanya membelah cakrawala ujung timur dengan raksasa beton. Dan mungkin akan menggusur semua sawah disini. Hanya tersisa beberapa petak sawah saja. Karena diantaranya tidak terurus sehingga menjadi tempat tikus curut berpesta.
Matahari masih bersinar dan angin sepoi-sepoi masih berhembus. Tapi panas dan gerah siang ini lebih menyengat dari pada tahun sebelumnya. Global warming. Aku membawa nasi putih, sayur daun singkong dan sambal. Menapaki jalan setapak menuju gubuk di pojok sawah yang tidak lagi ditumbuhi rumput ilalang dan bunga bakung. Di conblok. Aku merindukan bijinya yang menggelitik kulit.
Gubuk di pojok sawah masih berdiri. Bambu penyangga yang mengerut menopang atap rumbia berjamur. Sudah tidak kulihat lagi anak-anak yang bermain lumpur, mencari belut atau mencari cacing untuk memancing seperti zamanku. Mungkin mereka sedang asik bermain robot atau computer di rumahnya.
Bapak duduk di gubuk sambil mengipas tubuhnya dengan capil. Tentunya ia kepanasan setelah mencangkul hari ini.
“Wah, kebetulan bapak sedang istirahat.”
“Bapak tidak lelah mencangkul seharian. Mengapa tidak disewakan saja?” , aku membuka rantang makanan.
“Tidak usah disewakan. Bapak masih kuat menanami padi. Lagi pula bertani adalah mata pencaharian Bapak dari dulu.”
Kupandangi bapakku yang sudah menginjak senja. Kulitnya yang legam mencerminkan kerja kerasnya setiap hari. Kerutan di wajahnya adalah kerutan harapan dan kerutan kesedihan. Ototnya menjadi saksi keteguhannya mengelola semua keruwetan ini. Batinku meraung dengan nasib keluargaku, apalagi memikirkan kerja keras lelaki tua dihadapanku dan nasib sepetak sawah ini. Terngiang obrolan dengan adik lelakiku tadi pagi. Sulistya.
……..
“Mbak Sari, di sekolah aku ditanya Bu Guru. Apa cita citaku”, matanya berbinar bercerita dengan lidah cidalnya.
“Memang cita-citamu apa Dik Sulis?”, kupandangi wajah mungilnya.
“Jadi pilot. Nanti aku bawa Bapak, Simbok, dan Mbak Sari kerumah nenek naik pesawat.”
Ia berlari kecil mengitariku dengan tangan dilentangkan. “Ngeng..ngeng …!”, mulutnya menirukan suara pesawat. Aku tidak dapat menyalahkan cita-cita nya. Ia masih polos , tidak tahu arti hidup dan nasib. Tidak tahu kalau bapaknya hanyalah petani kecil dengan uang pas-pasan.
“Kenapa menjadi pilot ?. Bukankah lebih baik menjadi petani seperti Bapak! ”
“Sulis ingin jadi pilot saja. Kata Bu Guru bisa pergi kemana saja. Bisa terbang seperti burung ”.
Aku tersenyum pahit mendengar alasan naïf itu. Sulis …kau masih kecil.
“Banyak anak Indonesia bercita-cita seperti dirimu. Tapi melupakan satu fakta bahwa 70 % penduduknya adalah petani. Mereka mungkin tidak tahu lagi pewaris petak sawahnya, karena anak-anaknya ingin jadi pilot sepertimu. Bukankah petani adalah profesi luhur. Menghidupi masarakat dengan bulir padi. Menopang perekonomian negeri ini tanpa menuntut balas jasa dari Negara. Yah, meskipun penduduknya lebih suka makan beras import. ”. Namun kata-kata ini berhenti di tenggorokan, aku tidak ingin memupus cita cita itu.
“Ya sudah, sana pergi bermain ke rumah Doni. Katanya kamu suka mobil-mobilannya.”.
Tidak usah disuruh dua kali ia sudah terbang dengan kapakan tangan diiringi deru pesawat dari mulutnya. Nasib. Berapa jumlah anak Indonesia yang seperi adikku. Ingin jadi dokter, pilot, tentara, atau presiden. Negeri ini adalah negeri gemah ripah. Yang mampu menghidupi rakyatnya dari hasil bumi. Siapa yang akan mengelola tanah, udara, dan air di negeri ini?. Akankah semua anak Indonesia hanya akanmenjadi pilot, tentara, dokter, atau apapun itu. Tidak ada yang mau menanam padi, menagkap ikan dilaut, atau menanam palawija. Siapa yang akan menyediakan beras di negeri ini?. Sudahlah tidak penting untuk dipikirkan.
“Anak muda tidak baik melamun. Nanti kesambet penunggu sawah ini loh. He..he..!”, Bapak mengejutkanku dengan tawa mengejeknya. Pikiranku tersentak berputar mengelilingiku, membentuk spiral masa lalu.
“Wah, Bapak keliru. Saya sedang berfikir bukan melamun.” senyumku mengembang.
“Dulu bangunan disana belum ada Nduk. Hanya sawah yang dipandang dari gubuk ini. Kalau musim menanam padi, banyak anak kecil mencari belut. Masih ingat kamu ?”, Bapak bertutur kepadaku, sambil menunjuk pembangunan perumahan di bekas area persawahan.
“Ingat pak, dulu Sari mencari belut disebelah timur sana. Tapi sekarang sudah dibangun perumahan. Dik Sulis pun tidak pernah mencari belut sepertiku. Apa mungkin karena tidak ada lagi belut disawah ini?”, aku menatap perumahan disebelah timur yang menjulang.
“Kata orang, sekarang zaman modern. Sudah tidak zaman lagi anak anak bermain lumpur, atau mencari belut. Zaman sudah berubah, mereka tidak tahu lagi cerita Dewi Sri. Mereka taunya siapa itu Su…Suparman , di Tipi itu loh. ”
“Bapak, itu namanya Superman bukan Suparman. Ada saja bapak ini..”, aku tersenyum mendengar ke-kuno-an Bapak.
“Padahal cerita Superman tidak ada manfaatnya bagi kita Nduk. Dewi Sri yang merelakan jiwa raganya untuk melebur menjadi benih-benih padi. Ia telah meninggalkan kedudukan sebagai permaisuri, mengubur perasaan cinta kepada Raden Sadana dan hidup terlunta lunta untuk membunuh keangkaramurkaan para raksasa. Bahkan para dewa dikayangan juga mengirim burung Pipit dan belalang untuk mengancurkan benih dari jasad Dewi Sri. Sungguh pengorbanan itu telah menghidupi dan memberi harapan rakyat Purwacarita. Tetapi anak sekarang tidak mau tahu dari mana butir padi berasal ! ”, bapak membetulkan duduknya, “Oleh karena itu, jangan pernah menyiakan setiap bulir beras. Ora ilok ! ”.
Benar juga kata Bapak. Cerita itu hanya ada dibenak orang orang dahulu, seperti Bapakku. Aku atau adikku tentu tidak percaya dengan cerita cerita semacam itu. Padi tumbuh subur karena dirawat, karena dibajak, diairi, dan diberi pupuk.
…….
Senja sore ini masih jingga. Meninggalkan kubah angkasa, bersembunyi di ujung langit. Rembulan kehabisan darah perlahan merangkak. Gumpalan mega itu membentuk bayang bayang gelap. Kelelawar mengepak meliuk membelah senyap. Jangkrik, anjing, burung Hantu, bersembunyi meneriakkan lagu malam.
Tidak biasanya Pak Raharja berkunjung ke rumah kami. Beliau adalah tangan kanan Pak Ramlan, Ketua Rukun tetangga di kampung ini. Dulu, beliau pernah datang karena ada urusan kompor elpiji. Katanya ada sisa anggaran kompor sehingga masih dibuka kesempatan pendaftaran. Keluarga kami sudah terdaftar, tetapi Pak Raharja kongkalikong dengan Bapak. Mungkin juga sedikit memaksa untuk memalsukan kartu keluarga dengan membuat satu kartu baru atas nama Simbok. Lalu untuk apa beliau bersusah payah ?. Kata Simbok kompornya akan dijual untuk dimasukkan kas desa.
“Assalamualaikum….!”, Pak Raharja mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam, Pak Raharja. Silakan masuk Pak!”, Bapak berjabat tangan dan masuk keruang depan, yang berisi dua kursi panjang berhadapan dengan satu meja kotak. diantaranya. Tidak ada property lain.
“Maaf Pak! Kalau saya mengganggu waktunya. Begini, saya disuruh Pak RT untuk menyampaikan undangan rapat.”Ia membuka tasnya dan mencari sesuatu. Kemudian menyerahkan selembar kertas.
“Ada rapat apa Pak?”, Bapak membaca undangan”Rapat Klarivikasi Surat Tanah. Loh, ada masalah mengenai surat surat tanah desa ini atau pemutihan surat tanah Pak?”.
“Wah kalau soal itu saya tidak tahu. Yang jelas Bapak diminta hadir di rumah Pak RT, disana pasti lebih jelas”, Pak Raharja merapikan tas dan bersiap pulang.
“Kalau begitu, saya izin pulang dulu. Jangan lupa rapatnya nanti malam Pak!”.
“Tentu Pak”, Bapak menyahuti obrolan Pak Raharja.
Bayang bayang Pak Raharja menghilang di balik pohon pisang didepan rumah. Dan Bapak bersiap pergi. Simbok menghampiri Bapak yang sedang mencari jaket .
“Pak, jangan jangan akan dilakukan penggusuran rumah untuk membangun hotel”, kemudian Simbok duduk,”Atau mungkin pelebaran jalan didepan itu !”.
“Tenanglah, semuanya masih dugaan. Belum tentu ada masalah, mungkin juga hanya pengarahan pembuatan surat tanah yang baru. Nanti setelah rapat di rumah Pak RT Bapak ceritakan semuanya.”
“Rapatnya dimulai nanti malam. Mengapa sekarang sudah bersiap pergi?”, Simbok kembali bertanya.
“Pergi ke rumah Pak Umar. Kemarin ia menawariku bibit semangka. Hati hati di rumah ya?”, Bapak memakai jaketnya dan menutup pintu depan.
Dinginnya angin pagi menembus celah fentilasi menghinggapi kamarku. Suara kokok ayam terdengar dikejauhan. Serangga malam sudah berhenti berdendang. Aku perlahan membuka kelopak mata dan mengawali hari ini. Samar samar kedengar percakapan Bapak dan Simbok di dapur. Setelah sembahyang subuh, aku ikut forum diskusi sambil membantu Simbok menanak nasi.
“Intinya kita harus punya surat tanah.”, Bapak menjawab sambil membuka tempe untuk lauk pagi ini.
“Loh Pak!Rumah dan pekarangan ini ada surat tanahnya “, Ibu memasak air dan menoleh kearah Bapak.
“Tapi sawah di tepi desa belum ada surat tanahnya!”.
“Sudah dari dulu , sejak kakek nenekku juga tidak punya. Semuanya beres. Semua orang juga tahu kalau itu adalah sawah kita.”, Ibu mengelak dan menurunkan air yang sudah mendidik. Kemudian memanaskan penggoreng.
“Simbok, rapat tadi malam membicarakan surat tanah kita?”, aku bertanya.
“Benar Nak. Katanya harus membuat surat tanah untuk sawah kita”.
“Kan ada pemutihan, jadi Bapak tidak usah khawatir “aku menimpali.
“Masalahnya justru itu Nak. Kita harus mengeluarkan uang 3 juta untuk membuatnya. Uang itu bias kita belikan kambing, ayam, atau itik. Lagi pula tidak penting surat tanah itu. Buktinya pemerintah memungut pajak bumi bangunan dari sawah kita. Itu membuktikan kalau hak sawah dan segala kepemilikan diakui pemerintah dan menjadi hak kita ”, Simbok mengacungkan sendok pertanda sedang panas hatinya.
“Kalau begitu tidak perlu membuat surat tanah. Iya?”,aku menoleh kearah Bapak.
“Benar pemikiran Simbok, dan pemikiran Pak RT juga tidak salah. Kalau kita membuatnya, Bapak dan Simbok tidak punya uang sebanyak itu. Pemutihan juga sudah tidak ada lagi.”, Bapak berhenti sejenak dan meneruskan penjelasannya.”Namun kalau tidak membuat surat tanah, permasalahannya tambah pelik. Untuk tahun ini pemerintah akan mengambil semua tanah yang tidak punya sertivikat. Berarti kita tidak punya sawah kalau tidak membuat sertivikat.”
Beberapa hari setelah rapat di rumah Pak RT, bapak dan petani lain menerima uang penjualan sawah. Sebenarnya Bapak tidak setuju, tetapi harus memilih satu dari pilihan pilihan pahit. Bapak ingin marah atau mengamuk dengan kebijakan ini. Namun kepada siapa ?. ia hanya bisa sabar dan memendam perasaan jengkelnya.
“Pak Sutikno, sebenarnya saya tidak terima dengan kesepakatan di rumah Pak RT. Saya merasa dipaksa dan dirugikan”Pak Kamto memulai obrolan di gubuk pojok sawah. Ia adalah petani seperti Bapakku.
“Benar Pak, saya juga tidak terima dengan keputusan itu. Kita diminta tanda tangan dengan bujukan manis tetapi busuk di hati.”
“Kemarin saya ingin memukul wajah culasnya si Ketua RT. Tetapi ada polisi yang berjaga didalam dan di luar rumahnya ”Pakdhe Cokro menimpali.
“Kurang ajar Pak RT itu. Kalau sekarang lewat disini akan kuinjak injak tubuh gembrotnya. Heh…!”Pak Kamto mengepalkan tangan dan memukul pahanya sendiri. Semilir angin malam berhembus membisikkan kedamaian dan keagungan malam. Tetapi hati panas petani tidak menggubris kesejukannya.
“Aku yakin, pasti ia sudah dibujuk oleh pembangunan proyek perumahan itu. Sawah-sawah ini tentu sudah menjadi milik pemborong itu. Dan sebentar lagi pasti berdiri bangunan gedhong ”, Pakdhe Cokro mengubah posisi duduknya menghadap perumahan disebelah timur yang hanya terlihat kerlap-kerlip lampu.
“Mungkin juga Pak. Tetapi kita akan berbuat apa ? kita hanya petani kecil yang tidak akan digubris kalau ngomong”, Bapak menengahi percakapan di gubuk sambil menatap Pak Cokro.
“Saya pernah mendengar cerita waktu kecil dahulu, kalau seekor gajah kalah dengan semut seribu. Iya to ?”
“Oh jadi kita harus mengumpulkan petani lain untuk memprotes Pak RT ? Begitu Pak Kamto! ”, Pakdhe Cokro berfikir.
“Ide bagus Pak. Saya yakin teman teman petani semua setuju. Mereka pasti juga merasa jengkel dengan kelakuan busuknya.”
Malam ini puluhan petani berkumpul di sawah pojok desa. Mereka membawa cangkul, sabit, dan alat lain. Bukan kerja bakti, tetapi akan mendemo rumah Pak RT. Suasana hati yang panas dalam diri petani membuat udara disekitarnya menjadi gerah.. di barisan depan Pak Kamto, Pakdhe Cokro, dan Pak Sutikno memimpin arakan menuju rumah Ketua Rt, Pak Rahman.
“Tok Tok tok…..”
Pakdhe Cokro mengetuk pintu rumah Pak Ramlan, namun tidak ada jawaban. Kemudian ia mengetuk ulang dan pintu terbuka.
“Loh kok ramai-ramai. Ada apa ini! Hah..?” Pak Ramlan terkejut dengan kedatangan arakan para petani.
“Tidak bisa Pak Cokro. Perjanjian kita sudah berlaku dan tidak bisa dicabut kembali. Apa alasannya Pak ?”
Hingga detik ini suasana menjadi panas.
“Bapak yang untung, saya yang rugi”, Pak Sutikno berteriak.
“Benar Pak. Saya tidak punya pekerjaan selain bertani”, terdengar teriakan lain.\
“Betul…betul”, petani lain menyahut.
“Tenang Bapak-bapak !”, Pakdhe Cokro mengangkat tangan, lalu kembali berbicara dengan Pak Ramlan,”Seperti yang dikatakan Bapak bapak tadi, pembelian tanah secara sepihak sangat merugikan kami. Lagi pula belum ada peraturan tentang pengambilan sawah petani oleh Negara karena belum punya sertivikat. ”
“Bapak jangan sok tahu. Saya ketua RT disini, saya lebih tahu dari pada kamu. Pokoknya saya tidak setuju kalau harus menyerahkan sawah tersebut. Memang Bapak bisa apa ?” Pak Ramlan meruncingkan suasana.
“Gila, sinting, Dasar tidak punya perasaan ”.
“Bakar saja rumahnya….!”, petani lain menimpali.
“Tenang Bapak-bapak”, Pakdhe Cokro berteriak. Namun tidak dapat memadamkan api amarah petani yang sudah tersulut sejak kemarin. Hiruk pikuk petani semakin menggema.
“Cepat bakar rumahnya”
“Betul-betul, hancurkan rumahnya…!”
Batu-batu beterbangan menghantam dinding, kaca rumah itu. Api bergeliat menyelimuti rumah. Jeritan keluarga Pak Ramlan berbaur dengan dentingan pecahan kaca. Hingga terdengar sirine polisi meraung- raung membelah suasana malam. Namun rumah itu telah menjadi puing. Engsel jendela dan pintu lepas, dan gentingnya hancur. Dinding itu telah retak.
Minggu, 14 Juni 2009
GUBUK DI POJOK SAWAH
Diposting oleh (theo,yasin,usfatun)_ARCHITECH_3 di 03.19
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar