“Brug”, bunyi tasku terdengar setelah kulempar kesalah satu sudut kamar. Lalu aku membantingkan tubuhku di atas spring bad yang empuk. Kupandangi langit – langit kamar yang berwarna biru laut. Kemudian aku memandang pot – pot bunga yang ada di balik jendela.
Hari ini adalah hari yang paling membosankan sepanjang sejarah hidupku. Semua anak di sekolah khususnya anak – anak tim basket tempatku bermain
Mempermalukanku di hadapan publik saat pertandingan melawan tim basket SMA Jaya Kusuma. Mereka menganganggapku hanya patung. Mereka tidak pernah memberikan operan bola hingga pertandingan usai. Alhasil tim basket SMA Jaya Kusuma unggul lima poin di atas timku kata lainnya timku kalah menembus perempat final.
Semua anggota tim basket menyalahkanku menjadi biang kekalahan. Sebenarnya sih aku memang tidak hebat dalam bermain basket maka dari itu mereka tidak pernah memberi operan bola lagi pula aku bergabung menjadi anggota tim basket hanya untuk menghilangkan label aneh padaku. Maklumlah aku sendiri saja merasa buruk dalam bermain. Namun aku nggak sepenuhnya salah, mereka yang bodoh memilih aku menjadi pemain pengganti Prisma yang cidera pada kakinya.
I thing this is not bad. Walaupun menang aku pun nantinya tetep dianggap pecundang. Kalau pun menang kami menang, aku pasti aku tidak mendapat jatah uang. Jangankan mendapat uang, menyentuh dan melihat piala saja sudah dianggap beruntung.
“ Uhhh… sebel ! “, kesalku dalam hati.
Rasanya ini sudah cukup. Kesabaranku sudah habis. Dalam hati aku sudah membulatkan tekatku untuk mengundurkan diri dari tim basket SMA Budi Luhur. Yang aku perlukan adalah membuat surat penguduran diri. Aku mulai bangkit dari tempat tidur menuju meja belajarku. Aku mulai menulis surat pengunduran diri. Memang sengaja aku menulis dengan tinta warna merah agar mereka merasa keki atau apalah.
Sebenarnya Prisma, ketua tim basket menerimaku menjadi anggota tim gara – gara pekerjaaan orang tuaku. Mereka menggunakanku untuk mendapat sponsor dana dari papaku atau kaos seragam gratis dari mamaku yang seorang disainer baju ternama. Intinya aku hanya dimanfaatkan oleh anak – anak tim basket khususnya Prisma.
Sambil tersenyum sinis aku melipat surat tersebut. Aku berfikir apa jadinya jika mereka tanpa kehadiranku di tim basket. Mereka akan merengek – rengek seperti bayi unuk memintaku kembali menjadi anggota. Pokoknya mereka akan menyesal telah berbuat seperi itu.
****
“ Sam …. Kamu nggak bangun? Nanti telat lho! “ Suara Mamaku dari balik pintu.
“Oh My God! “ aku sangat terkejut melihat jam dinding menunjukkan pukul enam lebih lima puluh menit. Aku akan terlambat. Aku kemudian lompat dari tempat tidur dan menyambar handuk gambar sponge bob kesayanganku untuk mandi. Mungkin ini gara –gara aku semalaman melamunkan kehancuran tim baket tanpaku.
Tanpa sarapan aku segera meluncur menggunakan sepeda BMX warna biru. Di jalan aku sudah tidak sabar mendengar kabar sensasional dari keluarnya aku dari tim basket.
Setibanya aku di sekolah, aku tidak masuk kelas melainkan menuju ruang ganti gedung olah raga. Dengan senyum pasti aku memasukkan surat yang kusiapkan kemarin ke dalam loker milik Prisma.
“ Yes ini pasti top cer! “ batinku.
Sebenarnya aku tidak perlu tergesa-gesa ke sekolah. Tadi malam aku sudah berniat untuk membolos pelajaran pertama. Soalnya sih pelajaran itu adalah pelajaran fisika. Entah mengapa aku selalu pusing jika menerima bermacam – macam rumus yang membuatku bingung. Ditambah lagi dengan gurunya yang super nge- BT - in, kalau nggak marah pasti ngasih tugas yang segudang.
Sembari menanti pergantian jam pelajaran aku besembunyi sambil sarapan di kantin sekolah. Ibarat peribahasa ‘ Sambil menyelam minum air ‘ .
“Lho kamu kok nggak ikut pelajaran ? “ kata Bu kantin penjaga kantin, “ Sekarang pelajaran fisika lagi ya? Atau matematika? “.
“ Ah, tau aja! Aku pusing bu! Aku udah neg dengan rumus – rumus. “ keluhku. Sebenarnya tanpa ditanya pun Bu kantin pasti sudah tau kenapa aku selalu mbolos setiap pelajaran matematika atau fisika. Emang Bu kantin orang pengertian. Dia juga nggak suka ngadu kekepala sekolah kalau aku sering mbolos kelas. Kadang – kadang aku juga sering curhat padanya, sebab Bu Parti juga bisa pegang rahasia.
“ Kemarin gimana lombanya? Menang atau kalah? Tumben kok temen – temenmu nggak kesini. Biasanya kalau abis latihan atau lomba pasti kesini. Kok sekarang enggak? “ Ibu kantin mengalihkan pembicaraan.
“ Aduh! Tanyanya satu – satu akukan jadi bingung jawabnya! “
“ Iya ibu ngerti, tumben aja kok temen – temenmu nggak kesini! “.
“ aku marah sama temen – temen! “.
“ Ooo! Temen – temen kamu gitu lagi. Kayaknya kamu nggak cocok sama mereka, ibu lihat kamu selalu diperlakukan tidak adil terus. Ibu jadi kasihan sama kamu!“
Memang bener apa yang dikatakan Bu Parti, aku udah nggak cocok lagi dengan tim basket.
****
Menit – menit yang berlalu terasa membosankan di kantin. Tak banyak yang aku lakukan. Satu – persatu gorengan yang ada di piring hampir habis kumakan. Lumayan buat pengganti sarapan pagi yang terlewatkan tadi.
Siang nanti sepulang sekolah aku berniat pergi ke suatu redaksi majalah remaja. Aku ingin mengirim puisi untuk lomba. Kalau boleh jujur aku memang suka sekali menulis puisi, apalagi puisi cinta, aku bisa dibilang jagonya. Namun selama ini aku menyembunyikan ini dari tim basket. Mereka membenci yang namanya puisi. Menurut mereka puisi itu membosankan dan norak.
“ Hari gini masih nulis puisi Ah jadul “, komentar itu selalu terngiang dalam telingaku sampai saat ini.
Mereka selalu beranggapan bahwa yang pantas menulis puisi hanya perempuan saja. Maka dari itu aku merahasiakan hobi menulis puisi di sekolah. Aku takut jika nanti aku dianggap aneh dan jadul.
Ah, biarlah mereka berkata apa. Itu semua tidak mengurangi kecintaanku terhadap puisi. Walau nanti siang aku mengirim puisi ini aku sudah menyiapkan dari semalam bersamaan dengan surat pengunduran diri.
“Oh no “. Aku tersontak kaget ketika aku membuka tas dan melihat amplop yang berbeda. Aku rupanya salah memasukkan surat. Surat itu tertukar dengan surat berisi puisi yang akan kukirim guna mengikuti lomba. Prisma akan mengetahui kalau aku suka buat puisi.
Sebelum terlambat aku mencoba mengambilnya kembali. Aku berlari menuju gedung olah raga. Semua tenagaku kukerahkan semaksimal mungkin agar lebih dahulu dari pada Prisma.
Aku ternyata terlambat. Dia malah membaca puisiku melalui microphone gedung olah raga yang tersambung dengan semua speaker yang ada di sekolah.
Dengan panik aku mempercepat berlari menuju gedung olah raga. Semua rencana gagal. ‘Senjata makan tuan‘, mungkin ini yang pantas buat untukku.
“ Hahaha… “ tawa gemuruh semua anak di sekolahku ketika melihatku melintas. Rahasiaku telah tebongkar, jika aku sering membuat puisi, apalagi puisi yang dibaca Prisma adalah puisi cinta. Dalam hati aku bertanya “ apa sih salahnya jika seorang cowok suka buat puisi? “.
“ Huhuhu…” sorok mereka ketika aku memasuki pintu gedung olah raga. Mereka melempari aku dengan bola kertas dan botol – botol minuman. Aku kemudian mengambil dengan paksa kertas tersebut.
Masalah tersebut ternyata mengundang pehatian para guru dan kepala sekolah.
Mereka nampaknya marah dengan kejadian ini. Hal ini di anggap mengganggu ketenangan sekolah dan pelanggaran penggunaan barang sekolah. Ya tuhan, masalah bertambah rumit. Tepat dugaanku, mereka sudah marah besar. Apalagi Bu Bherta guru fisika kelasku juga datang dan ikut memerahi aku gara – gara bolos pelajaran.
Alhasil aku bersama Prisma diseret ke ruang sidang dan duduk di kursi panas. Dag..dig…dug… jantungku berdetak tak karuhan. Hidupku terasa sudah usai saat ini. Aku bagai mendapat kematian.
Sejam lebih aku berada di dalam ruang sidang. Aku mendapat omelan – omelan yang silih berganti, mulai Bu Bherta, kepala sekolah hingga guru BP. ‘Apes’ mungkin kata ini sangat cocok untuk nasipku sekarang ini. Bukan cuma omelan – omelan saja yang aku dapat, mereka juga memberi surat teguran untukku. Isinya aku diancam scorrsing seminggu jika ini terulang.
Dan sedangkan Prisma tak jauh beda denganku. Tapi aku juga masih bisa bernafas lega. Aku masih lebih beruntung sebab Prisma mendapat hukuman untuk bersih – bersih halaman sekolah.
****
Sejam dalam di dalam ruang sidang terasa seperti setahun. Aku bagaikan napi yang senang menghirup udara segar.
“ Eh, kamu Samuel kan? “, Tanya seorang gadis yang setahuku bernama Angel memecahkan keheningan sore di sekolahan.
“ Aku kagum dengan puisimu. Aku percaya kok kamu bisa memenangkan lomba itu! “, katanya sambil tersenyum lebar. Seketika itu Prisma meninggalkan kami dengan wajah yang sinis.
“ Lha kamu kok tahu sih? “ aku merasa sangat kebingungan ketika ia bertanyua begitu. Padahal aku sudah merahasiakan hal ini serapi mungkin agar tidak ada orang yang tahu di sekolah ini.
“ He..he.., kamu nggak usah panik! Aku juga suka puisi kok. Sebenarnya aku tahu dari majalah langgananku, kalau kamu sering mengirim puisi”.
Aku sangat terharu dengan komentarnya yang sangat panjang. Baru kali ini ada orang yang mau menghargai karyaku. Apalagi yang komentar adalah seorang cewek mantan ketua OSIS 2008 lalu.
“ Sebenarnya aku bermaksud untuk mengajak kamu gabung di club florist. Kamu mau kan! “ katanya.
‘Club florist’ aku sedikit terkejut mendengarnya. Hal itu karena club florist bukanlah club melainkan hanya perkumpulan anak yang dianggap aneh di pimpin mantan ketua OSIS yaitu Angel.
“ Sam please gabung ya! “ rayu Angel.
Duh bagaimana ini. Aku bingung setengah mati. Aku tak mau dianggap sebagai anak aneh.
“ Oke deh “ aku tidak yakin.
“ Kamu mau ikut? “
“ Maksudku oke buat pikir – pikir dahulu “ aku menjawab.
“ Oke, aku tunggu jawabanya besok “, katanya sambil menyodorkan formulir pendaftaran club florist.
****
Malam terasa begitu panjang. Angin bertiup sepoi – sepoi menusuk ragaku. Sambil bersantai di teras aku melamun tentang kejadian sore tadi. Entah kenapa aku jadi melamunkan Angel. Apalagi senyumnya yang begitu menawan. Terlebih ia memuji puisiku.
Aku heran kenapa ia dianggap aneh di sekolahku. Kalau dilihat – lihat ia juga menarik. Lagi pula ia orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin. Terbukti ia pernah menjadi ketua OSIS tahun lalu.
“ Ah ngapain mikirin Angel “ , batinku “ tapi dia manis juga “.
Sambil menimbang – nimbang keputusan aku mengisi formulir pendaftaran.
“ Kalau aku gabung di club itu bagaimana komentar anggota tim basket? Tapi aku sudah sudah resmi keluar, jadi ngapain difikirkan. Oke deh aku dah bulat tekatku untuk bergabung di club florist.”
****
Dengan langkah pasti aku menuju ruang gudang yang sudah disulap menjadi ruang mereka gunakan untuk tempat perkumpulan mereka. Ketika aku membuka pintu ruang tersebut, aku dikejutkan dengan teriakan – teriakan heboh berbunyi ‘ selamat bergabung ‘ dari sekumpulan anak – anak yang di anggap aneh di sekolah ini.
“ Makasih “, aku sedikit ilfeel alias ilang feeling.
“ Selamat ya “ , kata Angel penuh dengan semangat, “ aku yakin bulan ini perkumpulan kita menjadi club yang hebat “.
Minggu, 14 Juni 2009
Bunga VS basket
Diposting oleh (theo,yasin,usfatun)_ARCHITECH_3 di 03.54
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar